5 Perempuan Indonesia yang Menginspirasi di Era Disrupsi

Era disrupsi adalah fenomena ketika masyarakat menggeser aktivitas yang awalnya dilakukan di dunia nyata beralih ke dunia maya. Guru Besar Harvard Business School, Clayton M. Cristhensen melalui bukunya yang berjudul The Innovator Dilemma (1997) menerangkan bahwa disrupsi memberikan perubahan besar yang dapat mengubah tatanan. Salah satu contoh disrupsi adalah menjamurnya e-Commerce sekarang ini.

Perkembangan teknologi yang mengiringi perubahan tatanan saat ini mempengaruhi banyak sektor. Sektor ekonomi, sosial, pendidikan, budaya, dan lain sebagainya. Tidak hanya kaum lelaki, ada banyak perempuan Indonesia yang turut serta menunjukkan kiprah dan eksistensinya.

Berikut ini 5 Perempuan yang menginspirasi dengan menunjukkan prestasi membanggakan di era disrupsi ini.

1. Metha Trisnawati

Sumber: tangkapan layar https://twitter.com/thejakartaglobe/status/1072815909914464257/photo/1

Para ibu pasti akrab dengan aplikasi Sayur Box. Ya, aplikasi yang memungkinkan kita membeli sayur dan buah-buahan segar secara online. Bersama dua temannya Metha Trisnawati membidani terbentuknya start-up asli Indonesia ini. Perempuan lulusan ITB tahun 2010 dan   University College London (2016) itu terketuk hatinya untuk membantu para petani yang mengalami banyak kesulitan memasarkan hasil panennya. Ia menghubungkan petani sebagai produsen dengan konsumen tanpa ada campur tangan rantai panjang  distributor yang memetik keuntungan dari harga jual ke konsumen akhir. Ia berharap dengan memperpendek rantai distribusi ini, para petani mendapatkan penghasilan yang lebih besar.

2. Leonika Sari Njoto Boedioetomo

Sumber: https://klubwanita.com/leonika-boedioetomo

Perempuan cantik lulusan Sistem Informasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya ini tak ingin ada lagi orang Indonesia yang tidak tertolong karena kekurangan kantung darah. Ia mencetuskan ide membuat aplikasi Reblood untuk membantu masyarakat menemukan tempat mendonor darah terdekat dan juga mendapatkan kantung darah. Leo, begitu ia akrab dipanggil, tak segan melakukan kampanye hidup sehat kepada para kawula muda dengan menjadi pendonor darah secara rutin. Tak heran jika pada tahun 2016 Leo terpilih sevagai 16 Startup terbaik versi koran Tempo dan juga Forbes Asia 30 under 30. Aplikasi Reblood yang diciptakannya sudah diunduh lebih dari 10.000 pengguna di Google Playstore.

3. Azalea Ayuningtyas

Sumber: https://www.instagram.com/p/BScyePLjcwS/?utm_source=ig_web_copy_link

Berawal dari keprihatinannya melihat masalah malnutrisi yang diidap ibu-ibu dan anak-anak di Flores, Nusa Tenggara Timur, Azalea nekat meninggalkan kehidupannya yang nyaman di Boston untuk membangun sebuah wirausaha bernama Du’Anyam bersama enam temannya. Mereka merasa akar permasalahan kesehatan yang ada di daerah tersebut adalah masalah ekonomi. Para ibu dan anak mengalami malnutrisi karena tidak memiliki uang untuk memenuhi kebutuhan hidup yang memadai. Du’Anyam memberikan kesempatan terhadap para ibu di Flores untuk menghasilkan uang dengan keahlian yang dimilikinya yaitu menganyam. Mereka menganyam daun lontar menjadi tas, sepatu, aneka souvenir, dan berbagai produk lainnya dengan tetap menyematkan ciri khas tradisionalnya. Usaha Azalea dan teman-temannya berbuah manis. Startup yang dirintisnya memenangkan berbagai kompetisi kewirausahaan sosial, seperti MIT Global Ideas Challenge 2014, UnLtd Indonesia Incubation profram 2014-2016, Global Social Venture Competition 2015, serta mendapatkan dana hibah dari Tanoto Foundation.

4. Putri Yulia

Sumber: https://magazine.job-like.com/kostoom-dan-penjahit-rumahan/

Memiliki ibu yang berprofesi sebagai penjahit, Putri Yulia sangat memahami suka duka menjadi penjahit. Ia menjadi co-founder sekaligus CEO sebuah startup dengan nama Kostoom. Perempuan berhijab ini ingin para penjahit rumahan tetap berdaya di era serba digital seperti sekarang. Kostoom menerapkan konsep economy sharing yang menghubungkan beberapa penjahit di Indonesia dengan pelanggan yang membutuhkan. Pelanggan yang membutuhkan jasa jahit-menjahit, dapat langsung menghubungi website Kostoom (www.kostoom.com) atau berkonsultasi melalui WhatsApp. Kerja kerasnya mengembangkan kostoom mendapatkan apresiasi dari banyak pihak dan juga memenangkan beberapa kompetisi. Kompetisi yang pernah dimenangkan oleh kostoom antara lain Pemenang ‘Seedstars World Jakarta 2016’. Juara dua di kompetisi Spica Runway dan terpilih sebagai startup yang mengikuti SXSW 2017. Startuo ini terpilih untuk mengikuti kompetisi Startup 100 di Istanbul.

5. Mesty Ariotedjo

Sumber: tangkapan layar WeCare.id

Dokter cantik yang memiliki nama lengkap Dwi Lestari Pramesti Ariotedjo ini memiliki banyak sekali talenta. Selain dikenal sebagai seorang dokter, ia juga dikenal sebagai seorang model dan juga pemain harpa. Sebagai seorang dokter, Mesty prihatin mendapati banyak pasien yang masih mengalami kesulitan untuk mendapatkan akses kesehatan. Hatinya tergerak untuk memberikan bantuan pada orang-orang yang kurang beruntung tersebut melalui WeCare.id. Ia berharap besar melalui situs ini dapat mengumpulkan dana untuk membantu pasien-pasien di daerah terpencil. Ia bertekat tidak hanya ingin menjadi seorang dokter yang menyembuhkan pasiennya. Namun juga turut terjun dalam memperbaiki sistem kesehatan yang ada. Mesty menjadi salah satu kandidat perempuan yang menginspirasi oleh Forbes karena usahanya itu.

Tulisan ini diikutkan dalam 30 Days Writing Challenge Sahabat Hosting.

1 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *