Bed Time Stories: Melejitkan Potensi Anak dengan Bercerita

Sejak anak-anak masih kecil, saya dan suami sering mengajak anak ngobrol atau bercerita. Pada awalnya kami melakukan kegiatan ini tanpa tujuan apa-apa. Hanya ingin menghabiskan waktu berkualitas orangtua-anak setelah seharian bekerja. Lama kelamaan kegiatan ini menjadi sebuah kebiasaan.

Anak-anak paling suka minta diceritakan tentang masa kecil ayah dan ibunya. Nah, ini kesempatan kami bercerita serunya dulu kami bermain di sungai, di sawah dengan mainan buatan kami. Sambil bercerita kami ingin menyampaikan pesan bahwa bermain itu bisa seru meskipun tanpa gadget. Tak lupa kami menyisipkan cerita tentang bagaimana membantu orang tua di sawah atau membersihkan rumah.

Saya membaca beberapa buku dan artikel mengenai manfaat membacakan cerita atau dongeng pada anak. Ternyata mendongeng atau bercerita pada anak memiliki manfaat yang sangat banyak.

Manfaat Bercerita Pada Anak

Semakin Mendekatkan Hubungan Orang tua dan Anak

Bercerita dapat menjadi media yang efektif dalam mendekatkan hubungan orang tua dan anak. Anak merasa semakin diperhatikan sehingga semakin mempererat hubungan kekeluargaan.

Memperkaya Kosakata

Dengan mendengarkan cerita, tanpa sadar anak-anak dapat menyerap kosakata baru dari cerita. Dengan demikian dapat menambah wawasan sekaligus perbendaharaan kata pada anak. Hal ini baik untuk membantu anak menguasai bahasa ibu dengan lebih baik lagi. Dan tentu saja akan berguna untuk meningkatkan keterampilan anak dalam berkomunikasi.

Mengasah Imajinasi Anak

Saat mendengarkan cerita, Otak anak bekerja untuk memvisualisasikan cerita yang didengar oleh anak. Albert Einstein mengatakan bahwa jika ingin memiliki anak yang pintar, bacakan mereka dongeng. Jika ingin anak-anak lebih pintar, bacakan dongeng lebih banyak lagi.

“If you want your children to be intelligent, read them fairy tales. If you want them to be more intelligent, read them more fairy tales.” – Albert Einstein

Sebagai Kegiatan Relaksasi

Mendengarkan dongeng atau cerita bersama orang tua menjadi kegiatan yang menimbulkan efek relaksasi. Anak merasa nyaman dan lebih santai. Supaya kegiatan memberikan efek menghibur pada anak, maka kita harus jeli memilih cerita anak. Jangan sampai anak mengalami trauma karena cerita yang mereka dengarkan memberikan efek negatif pada batin anak.

Membuat Anak Mencintai Buku Sejak Dini

Saat orang tua membacakan cerita dari sebuah buku, secara tidak langsung akan menjadi contoh bagi anak. Anak akan terdorong rasa penasaran dan ingin membaca buku sendiri. Semakin sering anak berinteraksi dengan buku, akan menumbuhkan kecintaan pada buku.

Menanamkan Nilai-Nilai Kebaikan

Pendidikan karakter tidak hanya menjadi PR sekolah. Orang tua juga memiliki kewajiban membentuk anak-anak supaya memiliki karakter yang baik. Nilai-nilai kebaikan atau karakter baik yang ingin kita tanamkan pada anak kadang kala masih terlalu abstrak bagi anak. Melalui cerita, anak-anak dapat mengidentifikasi perbuatan baik dan perbuatan buruk, Selain itu mereka juga dapat menangkap nilai moral dari cerita dengan bahasa yang sesuai dengan usia. Dengan demikian mereka dapat menginternalisasi nilai-nilai kebaikan tersebut dalam diri mereka.

Penanaman nilai-nilai kebaikan melalui cerita juga melatih anak untuk berpikir kritis. Mereka dalam menghubungkan hukum sebab-akibat, dan juga menyimpulkan solusi pada masalah dari cerita yang didengar. Harapannya, jika anak menemukan masalah yang sama dalam kehidupan nyata, mereka mampu mencari solusi terbaik bagi masalahnya tersebut.

Sumber Cerita

Dalam bercerita pada anak, saya memiliki beberapa sumber cerita.

Dongeng Masa Kecil

Saya dan suami sering menceritakan dongeng-dongeng yang dahulu kami dengarkan dari orang tua atau kakek nenek kami. Kami beruntung pada saat kecil sering mendengarkan dongeng sehingga kini kami dapat menceritakan kembali pada anak-anak kami.

Cerita Karangan Sendiri

Jika ada suatu kejadian, misalnya adik bertengkar dengan kakak, saya akan meramu kejadian tersebut menjadi sebuah cerita. Tentu saja nama tokohnya saya ganti supaya anak-anak tidak merasa tersinggung. Setelah itu saya mengajak diskusi mengapa hal tersebut terjadi, hal itu baik atau buruk, dan bagaimana menyelesaikan permasalahan tersebut.

Buku Cerita

Saya dan suami sengaja membeli buku anak-anak untuk koleksi. Buku-buku tersebut dapat membantu kami saat kami tidak memiliki bahan untuk diceritakan.

Buku Cerita Digital

Terus menerus membeli buku membuat kami bingung di mana harus menyimpan buku-buku tersebut. Belum lagi jika anak sudah bosan, buku itu akan teronggok begitu saja. Sayang sekali bukan. Dengan berkembangnya teknologi, saya memiliki banyak alternatif bacaan melalui buku digital. Salah satu aplikasi membaca favorit saya dan anak-anak adalah Let’s Read. Semua cerita di Let’s Read memiliki pesan moral yang baik untuk anak. Selain itu, ada unsur budaya yang juga diselipkan sehingga anak-anak semakin kaya wawasannya.

Meskipun anak-anak sekarang sudah besar, kegiatan bercerita dan mengobrol sebelum tidur masih kami lakukan. Mumpung mereka masih mau diajak bercerita dan berbicara, akan kami lakukan semaksimal mungkin. Harapan kami, kelak hal ini dapat membawa manfaat sekaligus melejitkan potensi-potensi yang ada dalam dirinya.

 

Tulisan ini diikutsertakan dalam 30 days Writing Challenge Sahabat Hosting

 

1 Shares:
2 comments
  1. Setuju Mom. Yang bikin saya sedih adalah paradigma ortu yang kebanyakan ingin anak2nya suka baca, tapi di rumah tidak pernah disediakan buku atau dibacakan buku. Di situ saya merasa sedih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *