How Accountable Are You to be An English Teacher?

FB_IMG_1526135734504Dua hari yang lalu saya ikut workshop dengan tajuk How accountable are you to be English teachers? Hmmhm saya bingung menjawabnya. Terus terang saja, pertanyaan itu sudah menghantui saya bertahun-tahun. Saya sering merasa kurang accountable sebagai seorang guru.

FB_IMG_1526132941916.jpg

Apa sih accountability itu? Dalam workshop yang diselenggarakan oleh Teflin regional bekerjasama dengan LIA dan Pearson itu, Ibu Itje Chodijah mengartikannya sebagai amanah. Jika menilik makna dalam kamus, accountability means the quality or state of beingaccountable; especially : an obligation or willingness to accept responsibility or to account for one’s actions. Sebagai guru kita tahu di mana posisi kita, apa yang ingin kita capai, dan selalu berusaha memantaskan diri dengan selalu berusaha meningkatkan kualitas diri tanpa adanya paksaan dari luar. Seorang guru harus menguasai dua hal yaitu konten atau materi yang harus diajarkan sekaligus pengetahuan pedagogik, sehingga dapat menyampaikan materi sekaligus menanamkan nilai-nilai yang harus dikuasai oleh siswa untuk mampu bertahan di masa yang akan datang. 

Guru mengemban amanah yang tidak ringan atas siswa-siswinya. Pertanyaannya sekarang adalah seberapa amanah saya menjalankan amanah itu? Bagaimana saya menjalankan amanah itu? Menjadi amanah/bertanggung jawab atas kewajiban kita adalah senantiasa merefleksikan setiap kegiatan di kelas. Apakah pembelajaran yang kita lakukan bermakna? Apakah siswa mudah memahami materi yang kita ajarkan? Apakah pembelajaran di kelas akan bermanfaat bagi kehidulan siswa dalam kehidupan nyata? Dengan demikian, kita sebagai guru memiliki motivasi yang kuat untuk selalu belajar dan mengembangkan diri.

Hal terpenting dari pengajaran kita di kelas adalah pengetahuan konten (content knowledge) dan pengetahuan pedagogik (pedagogical knowledge). Sebagai guru bahasa Inggris, tentu saja content knowledge kita adalah language proficiency kita. Guru tidak bisa hanya mengandalkan salah satu pengetahuan di atas. Tanpa content knowledge, pembelajaran tentu saja tidak bermakna. Tujuan pembelajaran tidak akan bisa tercapai. Sedangkan tanpa pedagogical knowledge, pembelajaran akan berjalan tanpa jiwa. Seperti hilangnya jembatan antara jiwa guru dan siswanya. Terbayang betapa keringnya suasana belajar tanpa pengetahuan pedagogik yang diterapkan di kelas.

Pedagogical content knowledge (PCK) bukan hal instant. PCK berkembang dari masa ke masa seiring banyaknya pengalaman. Banyaknya jam terbang tidak menjamin kualitas seorang guru. Kualitas guru ditentukan oleh kemauan  guru untuk selalu berpikir kritis dan merefleksikan kegiatan pembelajaran dari waktu-waktu demi kemajuan siswanya.

Bagaimana supaya seorang guru bisa menjalankan amanah sebaik mungkin? Menjadi guru yang accountable, seorang guru dituntut untuk selalu bergerak maju, selalu belajar, dan tidak berhenti meningkatkan profesionalisme. Bagaimana caranya?

  1. Tidak sungkan untuk berdiskusi. Saat ada jeda mengajar, guru sangat dianjurkan untuk berdiskusi tentang pembelajaran, kesulitan yang dihadapi, dan bagaimana mengatasinya ( profesional talk). Daripada bergosip yang tidak berguna, lebih baik membicarakan hal bermanfaat yang dapat meningkatkan kualitas diri.

  2. Merubah pola pikir dari mengajar untuk memperoleh nilai menjadi belajar untuk kompetensi. Nilai penting, tetapi apakah siswa mampu mencapai kompetensi yang kita harapkan lebih utama. Kompetensi yang dapat membantu siswa terjun dalam masyarakat daripada nilai saja.

  3. Sebagai guru bahasa Inggris, jangan lelah belajar dan mengajarkan kemampuan berbahasa untuk berkomunikasi, baik secara lisan maupun tertulis. Sekarang memasuki era di mana kompetisi dalam pekerjaan semakin ketat. Kompetitor tidak hanya datang dari dalam negeri, tetapi juga dari luar negeri. Jika siswa tidak menguasai bahasa internasional dengan baik, bagaimana kelak mereka mampu bertahan hidup?

  4. Meningkatkan kemampuan untuk suasana belajar yang cukup menantang. Hal ini bertujuan untuk merangsang kemampuan siswa berpikir kritis sekaligus untuk membuat siswa betah untuk belajar. Dengan demikian, tujuan pbelajaran dapat dengan mudah dicapai.

  5. Mengembangkan kemampuan untuk mengadaptasi juga memilah materi yang dapat mendorong siswa untuk menggunakan bahasa Inggris dengan benar, berpikir kritis dan mampu memecahkan masalah, dan juga membangun karakter yang baik.

Untuk meningkatkan kualitas diri ada beberapa tips yang bisa dicoba. Diantaranya adalah:

  1. Membentuk group atau kelompok untuk berbagi informasi, bertukar pikiran seputar pengajaran, dan belajar bersama (Sharing group). Hal ini bisa dilakukan dengan teman sejawat dalam keadaan formal maupun informal. MGMP juga dapat dijadikan wadah guru untuk meningkatkan profesionalisme dengan mengadakan program-program pengembangan kualitas guru.
  2. Banyak membaca. Tidak hanya membaca materi yang diampu. Guru harus memiliki banyak wawasan supaya mampu membimbing siswa dengan baik. Dengan banyak membaca, guru mendapatkan ilmu, meningkatkan pengetahuan kebahasaan, sekaligus memperoleh inspirasi untuk pbelajaran yang lebih bermakna.
  3. Observasi teman sejawat. Hal ini sangat bermanfaat untuk meningkatkan kualitas pengajaran. Setelah mengobservasi, jangan sungkan untuk meminta diobservasi dan diberikan masukan atas kekurangan dan kelebihan kita saat mengajar.
  4. Merekam suasana belajar. Jika merasa malu saat diobservasi oleh orang lain, kita bisa merekam diri sendiri saat mengajar. Tentu saja fokusnya bukan untuk melihat diri sendiri, melainkan bagaimana suasana pembelajaran berjalan. Kita bisa mengevaluasi dan membuat perencanaan untuk pembelajaran yang lebih baik.
  5. Mengikuti seminar atau workshop juga salah satu hal untuk mengembangkan diri. Jangan menunggu disuruh oleh atasan saja. Sadarilah bahwa ini penting karena kita membutuhkannya, bukan karena dipaksa untuk ikut. Jika tidak memiliki keleluasaan mengikuti seminar/ workshop offline? Kita bisa mengikuti seminar, pelatihan-pelatihan, atau webinar yang diadakan secara online.
  6. Kuliah lagi. Jika dana dan kesempatan mumpuni, kenala tidak menempuh lendidikan lanjutan untuk lebih memperdalam.ilmu yang trlah didapat saat S1.
  7. Online study. Ya belajar tidak harus dengan tatap muka. Banyak sekali website-website yang menyediakan informasi-informasi gratis sesuai dengan kebutuhan kita.

Dengan berbagai kemudahan akses informasi, guru dapat dengan mudah belajar dari berbagai sumber. Satu-satunya hal yang menghentikan guru untuk belajar adalah kurangnya motivasi untuk menjalankan amanah dengan baik. Nah, tidak mau dong disebut sebagai guru yang tifak accountable, pertangungjawabannya dunia akhirat, loh. Yuk, selalu belajar dan saling bahu membahu memajukan pendidikan Indonesia.

images (8)

Sumber Gambar: http://cobbpaytonedm310.blogspot.com/2015/04/post-11.html

0 comments
0 likes
Prev post: Sudah Tahu Belum? Kampung Wisata di Kota Malang Ini, Cocok Banget Buat SelfieNext post: Lima Hal di Bawah Ini Membuat Kamu Tidak Takut Lagi Untuk Berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *