Liburan Murah Dan “Bergizi” Ala Kami

IMG-20171224-WA0006

Di laman sosial media saya banyak berseliweran foto-foto liburan kawan-kawan saya. Ada yang pulang kampung, ada yang berkemah, mendaki gunung, hingga shopping-shopping di negara sebelah. Saya sih senang sekali lihat foto-foto mereka. Apalagi kalau disertai cerita seru liburan mereka.

Kebetulan saya tidak bisa pulang kampung. Kasihan juga lihat anak-anak hanya nonton TV di rumah saja. Akhirnya saya dan suami mengajak anak-anak ke Kota Tua. Kami memilih obyek wisata ini karena selain jaraknya tidak terlalu jauh, murah meriah, juga dapat menambah wawasan sejarah dan budaya yang bisa anak-anak saya.

Jam setengah delapan kami meluncur ke Stasiun Depok Baru. Dengan membayar Rp. 72.000 saja kami sudah mengantongi empat tiket KRL PP Depok baru – Jakarta Kota. Kami sempat dioper ke kereta lainnya karena kereta yang sedianya mengantar kami ke Stasiun Jakarta Kota harus kembali ke Depok.

20171224_105109

Turun di Stasiun Jakarta Kota, orang-orang sudah menyemut memenuhi stasiun. Kami memutuskan keluar lewat gerbang utara yang mengarah langsung ke arah kompleks Kota Tua. Tak lupa dalam perjalanan kami membeli.sepasang topi cantik untuk menghalau teriknya mentari di tempat tujuan kami. Saya bukan penawar ulung. Sang penjual menawarkan topi seharga Rp. 45.000,- perbuah. Saya hanya bilang “kurangin ya, Pak,” dan bapaknya memberikan harga Rp. 60.000,- untuk dua buah topi. Saya mah sudah malas nawar lagi segera saja saya bayar dan melanjutkan perjalanan.

Memasuki kawasan Kota Tua, kami disambut oleh gedung-gedung tua yang bergaya klasik. Ada kantor pos, gedung Jasindo, museum Wayang, Museum Fatahillah dan lain-lain. Di tengah-tengahnya ada area kosong yang dipenuhi pengunjung yang sedang menaiki sepeda sewaan warna-warni atau yang sedang mengabadikan kunjungan mereka di tempat ini.

20171227_150125

Karena ini adalah pengalaman kami yang pertama, kami langsung saja menuju museum Fatahillah. Antrian sudah mengular ketika kami sampai. Tiketnya hanya lima ribu rupiah untuk orang dewasa, dan dua ribu rupiah saja untuk anak-anak. Dalam museum ini ada berbagai peninggalan sejarah. Mulai peninggalan pra sejarah seperti kapak-kapak batu dari Zaman batu, hingga prasasti-prasasti batu dari Zaman kerajaan kuno. Setelah itu ada lukisan peperangan saat penaklukan Batavia dilengkapi display senjata yang digunakan pada saat itu. Saya senang sekali karena anak-anak sangat antusias. Mereka tidak hanya melihat benda-benda yang di pamerkan, namun aktif membaca setiap papan keterangan dari setiap benda yang mereka lihat. Mereka juga aktif bertanya pada Sang Ayah yang dengan sabar menjawab setiap pertanyaan. Saya hanya mengikuti dari belakang karena kaki saya yang lelah dan tidak bisa diajak kompromi.

 

Keluar dari museum Fatahillah, kami menyusuri tiap gedung tua di kawasan ini. Melewati gedung kantor pos, anak-anak tidak ingin masuk. Jadi kami melewati gedung kantor pos dan gedung Jasindo. Di antara gedung kantor pos dan gefung Jasindo ada jalan yang dipenuhi orang. Rupanya di situ ada banyak orang-orang berkostum para pejuang dengan wajah hingga baju yang dicat menyolok. Tidak ingin melewatkan kesempatan, kami pun menyempatkan diri berfoto-foto ria.

20171224_122453

Tujuan selanjutnya adalah museum Wayang. Kami beruntung karena ketika kami masuk museum, sedang ada pertunjukan wayang kulit. Pengunjung duduk rapi di kursi yang disediakan. Ada juga yang duduk lesehan di atas panggung. Anak-anak saya mengikuti cerita dengan seksama. Bagi saya dan suami, ini adalah momen nostalgia nonyon wayang yang dulu saat kami kecil kami tonton saat ada tetangga yang hajatan atau di televisi. Sayangnya di museum wayang ini banyak area yang sedang direnovasi. Jadi banyak area yang tidak bisa kami kunjungi. Saat berkeliling ruang tempat berbagai wayang dipamerkan, banyak etalase yang kosong juga. Sedihnya, para pengunjung banyak yang tidak tertib. Mereka seenaknya duduk di koridor yang seharusnya untuk jalan.

Keluar dari museum wayang, cacing-cacing dalam perut sudah demo minta di beri makan. Kami berkeliling ke sebelah kanan museum wayang yang terdapat deretan restoran. Sayangnya semuanya penuh sesak. Kami berjalan terus sambil browsing tempat makan terdekat yang bisa kami datangi. Di bagian samping Museum Fatahillah, tepatnya di sepanjang jalan depan Museum Wayang, banyak pengunjung menggelar tikar dan koran. Mereka duduk dengan santai sambil memakan bekal yang entah mereka beli atau bawa. Saya dan suami gemes banget. Bagaimana tidak, para pengunjung itu benar-benar tidak menghiraukan himbauan petugas untuk menjaga kebersihan dan tidak mengganggu etertiban dengan duduk sembarangan. Ketika pak petugas sedang memberi pengarahan untuk tidak duduk di jalanan, di depannya ada keluarga justru menggelar tikar dan membuka bekal mereka. Pengen banget saya samperin sambil berkata “how can you do that?”😓

Saya dan suami tetap berjalan sambil menasehati anak-anak, jangan sampai ikut-ikutan melanggar peraturan. Kalau bisa ikut menjaga kebersihan dan keindahan. Kan kita dapat pahala kalau tidak menyusahkan orang dan merupakan kebaikan jika turut jadi warga yang tertib dan taat peraturan. Dan kami akhirnya memutuskan untuk membeli makanan di area Stasiun Jakarta Kota sekalian jalan pulang.

Dari pengalaman kami ada beberapa tips yang bisa saya bagi saat Anda ingin berwisata ke Kota Tua.

  1. Berangkat lebih pagi karena masih belum terlalu ramai dan Anda bisa bebas menikmati bersepeda di kawasan Kota Tua.

  2. Hindari peak season seperti saat liburan. Karena penuh sesaknya pengunjung membuat liburan jadi kurang nyaman.

  3. Usahakan mengisi perut sebelum berangkat dan membawa bekal makanan dan minuman yang cukup dari rumah. Jangan lupa membawa plastik untuk menyimpan sampah Anda. Jangan ikut andil mengotori kawasan wisata.

  4. Rencanakan rute perjalanan dan kelola waktu dengan baik. Sehingga Anda dapat mengunjungi setiap obyek wisata di Kota Tua. Hal ini yang belum kami lakukan sehingga kami melewatkan beberapa obyek wisata seperti museum Bank Mandiri dan hanya berkunjung ke museum Fatahillah dan museim Wayang saja.

Kami tidak kapok berwisata ke Kota Tua. Meskipun saat pertama ada banyak ketidaknyamanan kami temui. Lain kali kami akan kembali dengan perencanaan yang lebih baik lagi, sehingga kami bisa menikmati semua situs wisata di kawasan Kota Tua ini.

20171224_105237

0 Shares:
3 comments
  1. Saya sudah ke Museum Fatahillah, belum ke Museum Wayang dan Museum Bank Mandiri..hiks! Bayangin ramainya saja sudah pusing kepala hahaha
    Benar juga ya, lebih baik hindari peak season..
    Thanks infonya Mbak:)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *