Lima Hal di Bawah Ini Membuat Kamu Tidak Takut Lagi Untuk Berbagi

WhatsApp-Image-2019-03-19-at-15.36.43Sekitar tahun 2000, ketika saya masih menjadi mahasiswa saya sering membeli buku di jalan Wilis atau kerap di sebut blok Wilis. Di sebelah komplek toko-toko buku tersebut ada sebuah jembatan. Jembatan itu tidaklah istimewa. Hanya sebuah jembatan biasa dengan sebuah sungai yang tidak begitu besar di bawahnya. Yang membuatnya tidak biasa adalah sebuah gubuk berdinding triplek bekas tanpa pintu berdiri tepat di samping sungai.

Kami beberapa kali melihat beberapa nenek tua di gubuk itu. Karena penasaran, saya dan salah satu teman saya yang bernama Putut memberanikan diri menghampiri gubuk itu. Sebelumnya kami membuat sebuah skenario supaya kedatangan kami tidak membuat orang yang ada di sana takut atau curiga. Saya membeli sebungkus biskuit dan berpura-pura berteduh karena cuaca mendung dan gerimis. Saya mengucapkan salam tanpa mengetuk pintu (karena tidak pintu). Saya sangat kaget, seorang nenek tua menyambut saya dengan wajah kebingungan. Saya buru-buru menjelaskan kalau saya hendak menumpang untuk berteduh sambil menunggu teman. Nenek tua yang memperkenalkan dirinya sebagai Mbah Mi itu mempersilahkan saya duduk di sebuah lincak yang ada di depan gubuk. Saya pun mengajak beliau mengobrol sambil memakan biskuit yang saya siapkan tadi.

Beliau menuturkan bahwa beliau adalah seorang pemulung. Karena tidak sanggup menyewa rumah yang layak, beliau dan teman-teman pemulungnya memilih tinggal di tempat itu. Sedih bercampur prihatin menyelimuti batin saya. Bagaimana mungkin sosok serenta itu masih harus bersusah payah memulung dan tinggal di tempat yang pasti dingin dan banyak nyamuk itu. Kemana anak-anaknya?

Mbah Mi dan teman-temannya sangat kekurangan. Mereka hanya mengandalkan hasil memulung yang tak seberapa untuk menyambung hidup mereka. Putut mengusulkan bagaimana kalau setiap bulan kami patungan untuk sekedar membelikan sembako untuk Mbah Mi. Sejak saat itu, hampir setiap bulan kami mengunjungi Mbah Mi sambil memberikan sembako seperti beras, minyak goreng, dan mi instan. Entah kenapa saya merasa sangat bahagia melihat senyum semringah di wajah perempuan renta itu. Yang juga membuat saya semakin semangat berbagi adalah teman-teman sekelas saya tak jarang ikut menyumbang untuk Mbah Mi.

Sayang sekali, saat itu media sosial belum sesemarak sekarang. Kami kurang memiliki informasi tentang lembaga sosial seperti atau semacamnya untuk berdonasi supaya bisa membantu orang-orang lain seperti Mbah Mi.

Di zaman dimana informasi dapat diterima dengan cepat dan jangkauan yang sangat luas ini, kesempatan untuk berbagi sangat besar. Tanpa harus meninggalkan pekerjaan atau rumah, kita bisa dengan mudah membantu orang lain. Salah satu lembaga sosial yang dapat membantu kita menyalurkan zakat, infaq, dan shodaqoh kita adalah dompet dhuafa. Hanya dengan satu klik di link https://donasi.dompetdhuafa.org/ saja, amal jariah kita akan tersampaikan pada orang yang berhak menerimanya. Tak perlu risau, lembaga ini sangat amanah. Kita bisa mendapat informasi sebanyak-banyaknya dengan membuka website-nya di http://www.dompetdhuafa.org/.

Kenapa sih, harus berbagi? Saat saya dan teman-teman saya membantu Mbah Mi, kami tidak pernah memikirkan tentang manfaat berbagi atau semacamnya. Kami hanya mengikuti kata hati kami untuk membantu orang lain. Namun efeknya sangat nyata kami rasakan. Rasa bahagia dan tenang kami rasakan. Belakangan dari banyak buku dan ceramah, saya baru tahu manfaat berbagi atau bersedekah dalam islam di antaranya adalah:

  1. Sedekah akan mendatangkan rezeki yang tak disangka-sangka. Rezeki tidak hanya dalam bentuk uang. Bisa dalam bentuk kesehatan, kemudahan menjalani aktivitas, dan lain sebagainya.
  2. Sedekah akan menghapus dosa-dosa yang telah kita lakukan. Sebagai manusia biasa, kita tak luput dengan dosa. Amalan ibadah kita  mungkin saja jauh dari kurang untuk menebus dosa-dosa kita yang sangat banyak. Salah satu usaha yang dapat kita lakukan untuk memohon pengampuan tentu saja dengan bersedekah.
  3. Sedekah bisa menjadi penolak bala. Kita tidak pernah tahu apa yang akan menimpa kita. Dengan bersedekah kita memohon pada Allah supaya selalu mendapat perlindungan dari segala kejahatan dan mara bahaya.
  4. Sedekah dapat melipatgandakan pahala amal ibadah kita. Bagi seorang muslim pahala adalah bekal kita kelak di hari kiamat. Bagaimana kita bisa segera masuk surga jika pahala kita lebih sedikit daripada dosa-dosa kita. Jangan takut berbagi. Beramal tidak harus dengan materi. Kita dapat beramal dengan pemikiran, tenaga, hingga dengan senyum kita saja.
  5. Sedekah dapat memberikan naungan pada kita kelak di hari kiamat. Siapa yang tidak ingin mendapatkan pertolongan di hari akhir? Hal ini tentu menjadi dambaan setiap umat muslim.

Sudahkah Anda berbagi hari ini? Jangan lagi takut berbagi. Allah menjamin harta yang kita sedekahkan tidak akan membuat kita kekurangan. Pilihlah cara berbagi yang paling nyaman dengan niat tulus karena Allah semata. Insyaallah, tenang dan bahagia hidup kita.

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Jangan Takut Berbagi yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa”

 

0 comments
0 likes
Prev post: How Accountable Are You to be An English Teacher?Next post: Jangan Asal Menghujat, Kenali Ciri Baby Blues Syndrome Sebelum Terlambat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *