Mengulas Ragam Makna Dalam Sepiring Nasi Wudu’ yang Lezat

Nasi Wudu atau orang sekarang mengenal dengan nama nasi uduk adalah hidangan yang selalu muncul di saat-saat istimewa. Saya dan teman-teman di kampung selalu menantikan nasi wudu’ dengan lauk ayam ingkung yang dihidangkan dalam tampah beralaskan daun pisang. Saya dulu pernah bertanya pada mbah saya kenapa nasi wudu’ ini rasanya sedap sekali. Beliau menjawab bahwa nasi ini terasa sangat nikmat karena mambu donga atau berbau doa. Dalam acara Maulid, kami memang diperkenankan makan setelah pak kyai membacakan doa.

Setelah tinggal di Depok, saya dapat menemukan nasi ini setiap hari. Di berbagai sudut kota banyak sekali saya jumpai penjual nasi uduk. Hanya saja, nasi uduk ini berbeda dengan yang saya rasakan di masa kecil. Di sini nasi uduk biasanya ditemani dengan bihun, orek tempe, dan semur jengkol. Tidak ada lagi ayam ingkung. Kalaupun ada, paling telur balado atau semur telur saja.

Beberapa hari yang lalu, saya tidak sengaja menonton channel youtube ustad Salim A Fillah. Beliau mengulas makna terpendam yang tersimpan di dalam hidangan nasi wudu’ atau nasi uduk. Saya tidak pernah menyangka jika ternyata nasi wudu’ ini memiliki banyak pesan pengingat terutama bagi orang islam.

Asal Usul Nasi Wudu’

Dalam tayangan itu Ustad Salim menjelaskan, Masa dakwah para wali di pulau Jawa mencapai masa keemasannya salah satunya pada masa Kepemimpinan Sultan Agung dari kerajaan Mataram. Sultan Agung sangat menyukai hidangan seperti nasi kebuli dan nasi kafsah yang merupakan makanan dari Arab. Kemudian beliau berusaha mengadaptasi hidangan tersebut menggunakan bahan dan rempah yang tersedia. Selain itu, Sultan Agung sangat suka menyisipkan pesan-pesan dakwah dalam berbagai hal seperti makanan, pakaian, bahkan arsitektur bangunan. Nasi wudu’ ini merupakan salah satu makanan yang penuh pesan dakwah bagi masyarakat jawa pada umumnya dan umat muslim pada khususnya.

Kok nasi wudu’ bisa jadi nasi uduk? Ustad Salim menjelaskan bahwa ini merupakan pergeseran bahasa. Dahulu ketika tentara Mataram menyerbu Batavia pada tahun 1628-1629, para tentara ini membangun Kamp di suatu daerah di Jakarta yang kini dikenal dengan nama Matraman. Setiap hari Juma’t, para tentara selalu membuat nasi wudu’ yang lama kelamaan warga menyebutnya menjadi nasi uduk.

Sumber: tangkapan layaar channel youtube Salim a fillah

Makna yang Tersimpan dalam Lezatnya Nasi Wudu’

Nasi wudu’ berarti bersuci atau thaharah. Di arab nasi kebuli atau nasi kafsah itu dimasak dengan minyak samin, lemak unta, atau minyak nabati lainnya. Di Jawa nasi wudu’  dimasak menggunakan santan kelapa berwarna putih yang melambangkan kesucian. Sebelum memasak, beras di pesusi atau dicuci menggunakan air. Setelah bersih/ suci dicampur dengan santan. Beras putih bertemu dengan santan berwarna putih yang kemudian dimaknai dengan kebersihan atau kesucian lahir dan batin. Nasi ini memiliki filosofi jika kita mampu menjaga wudhu atau kesucian diri kita, maka Insyaallah akan selalu terjaga dari pebuatan-perbuatan dosa. Nah, nasi wudu’ ini mengingatkan kita untuk senantiasa menjaga kesucian.

Pelengkap nasi wudu’ zaman dulu adalah ayam ingkung. Ayam ingkung dahulu adalah ayam yang dimasak secara utuh dan diposisikan bertelungkup seperti orang yang sedang sujud. Ingkung berasal dari kata eling manekung yang berarti taat kepada Allah atau bahasa Arabnya adalah qonitah. Ada juga yang mengartikan ingkung adalah eling nyekukung atau ingat mati. Jadi selain mengingatkan untuk sholat, ayam ingkung juga pengingat kita akan kematian. Ayam ingkung bisanya dilengkapi dengan saus atau kuah yang disebut areh atau dari bahasa Jawa sareh yang berarti sabar. Dalam Alquran dalam surat Lukman dijelaskan bahwa orang yang sholat itu menegakkan yang ma’ruf dan meninggalkan yang munkar dan orang yaang sholat itu sabar. Areh ini berwarna kuning karena diberi bumbu kunyit atau kunir yang ditafsirkan sebagai kunnur berati jadilah cahaya. Sedangkan warna kuning dirujukkan ke dalam kata wening atau bening dalam bahasa Jawa. Dapat disimpulkan ayam ingkung memiliki makna kita harus selalu menjaga sholat dengan khusyu.

Pelengkap nasi wudu’  yang terakhir adalah sambel gempleng. Sambel gempleng merupakan akronim dari sregep geleng-geleng. Kemudian ini diasosiasikan sebagai kegiatan zikir. Sambal ini terdiri dari bahan yang sederhana yaitu kedelai, kacang tanah, cabai, bawang putih, dan garam.

Masyaallah! Dalam sekali filosofi yang terkandung dalam sajian nasi wudu’ ini.

Tulisan ini diikutkan dalam 30 days Writing Challenge Sahabat Hosting

5 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *