Self Healing dengan Writing

Berbagai cara dilakukan orang-orang untuk mengatasi kesedihan. Ada yang meluapkan perasaan dengan banyak makan. Terkadang bercerita pada teman menjadi jurus andalan mencurahkan beban pikiran. Dulu saya suka sekali curhat jika kesedihan datang mendekat. Namun seringkali saya merasa ganjalan di dada tak kunjung berkurang. Setelah itu, saya mencoba memendam sendiri segala sesak di hati. Dampaknya sungguh sangat buruk sekali. Saya menjadi orang yang super sensitif. Orang-orang zaman sekarang menyebutnya “baperan.”

Menyadari hal ini sangat merugikan, saya berusaha mencari cara lain untuk meredakan tingkat baperan saya yang levelnya sudah parah sekali. Saat membaca artikel tentang writing for healing, saya seperti menemukan jawaban. Jauh sebelum mengetahui tentang konsep writing for healing, saya sering menumpahkan semua keresahan melalui media sosial. Saya tuliskan apa yang saya rasakan beserta ungkapan kemarahan pada orang-orang yang menjadi sebab kesedihan. Saat itu saya berpikir apa yang saya lakukan sudah benar. Dengan menumpahkan sampah pada tulisan, saya dapat mengurangi beban yang mengganjal di pikiran.

Ternyata saya salah besar. Apa yang saya lakukan di media sosial bukannya menyelesaikan masalah, tetapi justru menambah masalah. Kalimat yang saya tulis bisa jadi salah sasaran dan menyebabkan orang lain gerah. Selain itu, orang yang membaca status atau tulisan itu justru menjadi tahu masalah yang saya hadapi. Bukan tidak mungkin hal ini dapat mempengaruhi pendapat orang lain terhadap saya.

Setelah sedikit memahami writing for healing, saya berhenti menulis kalimat sindiran, ungkapan kemarahan, dan juga ujaran-ujaran kebencian di media sosial. Saya mulai membaca lebih banyak lagi tentang topik ini supaya mendapat solusi yang tepat untuk masalah yang saya hadapi tanpa menambah masalah lagi.

Berikut ini tips terapi menulis yang sudah saya lakukan:

Tidak Menulis di Media Sosial Saat Marah

Saat sedang sangat marah, saya menjauhkan gawai dari jangkauan supaya tidak tergoda menulis tulisan sampah di media sosial. Untuk meredam rasa marah atau sedih, saya menulsi di buku diary. Hal ini lebih aman bagi saya karena tidak ada orang lain yang bisa membacanya.

Refleksi

Setelah emosi sudah terkendali, saya akan melakukan refleksi terhadap apa yang telah saya alami. Saya tuliskan perasaan yang saya alami kemudian efek apa yang saya rasakan. Misalnya: dada sesak, tidak bisa fokus pada pekerjaan, dan sebagainya. Setelah itu, saya memikirkan langkah apa saja yang bisa saya lakukan supaya hal tidak mengenakkan tersebut tidak terulang. Sederet kemungkinan-kemungkinan saya tulis untuk mengantisipasi hal itu supaya tidak terjadi lagi.

Akhir-akhir ini saya sering mempraktikkan menuliskan uneg-uneg saya dalam bentuk fiksi. Saya sering menggunakan sudut pandang orang ketiga supaya saya dapat memandang masalah dengan obyektif. Orang-orang yang membuat saya sakit hati, saya jadikan tokoh antagonis. Saya bebas memberikan deskripsi tanpa membuat orang tersebut tersakiti. Dan yang paling penting ada penyelesaian atas kasus yang telah saya lalui. Tulisan dalam bentuk ini sering saya tulis di media sosial atau platform menulis online. Salah satu keuntungan menulis dalam bentuk fiksi adalah bisa dijadikan sebagai bahan portofolio. Jika dibaca oleh orang lain, harapan saya bisa menjadi hiburan bagi orang lain. Syukur-syukur jika bisa menginspirasi.

Apa yang saya rasakan setelah menerapkan terapi menulis? Saya merasa level baperan saya jauh berkurang. Jika dulu level 10, sekarang mungkin berada di level 5. Sampai saat ini saya masih banyak mencari referensi tentang terapi menulis. Kunci utama dari terapi menulis adalah menulis kata-kata positif. Setiap kalimat positif yang saya tulis, dapat menyebarkan aura positif terhadap tubuh dan pikiran. Meskipun belum mencapai hasil yang maksimal, yang saya rasakan sekarang tetap patut saya syukuri. Tanduk dan taring yang dulu sebentar-sebentar muncul, kini sudah jarang sekali. Tertarik Dengan terapi menulis? Langsung saja praktikkan!

“Writing is medicine. It is an appropriate antidote for injury. It is an appropriate antidote for any difficult change” -julia Cameron

Tulisan ini diikutsertakan dalam 30 Days Writing Challenge sahabat Hosting

1 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *