Tangkal Hoaks dari Media Abal-Abal dengan Literasi Digital

Majalah mingguan Tempo yang mulai menjadi media online pada tanggal 6 Maret 1996 menjadi tonggak sejarah jurnalisme online di Indonesia. Kemudian Detik.com menjadi mengikutinya pada 9 Juli 1998. Detik.com mengungkapkan sejatinya media online ini sudah siap akses pada bulan Mei 1998. Namun siap online dengan lengkap pada bulan Juli di tahun yang sama.

Saat ini tak terhitung jumlah portal media online yang dapat kita akses. Pada tahun 2018 telah tercatat ada sekitar 47 ribu media online yang dapat diakses oleh masyarakat.  Sayangnya tidak semua media online tersebut telah terverifikasi oleh Dewan pers. Hal ini mengakibatkan berita yang beredar banyak yang tidak berkualitas dan bahkan tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Maraknya media online memunculkan fenomeda yang disebut hoaks.  Allcott and Gentzkow, 2017 mengungkapkan bahwa secara konseptual hoaks dapat dibagi sebagai berikut:

  1. Kesalahan yang tidak disengaja
  2. Kabar burung
  3. Konspirasi teori
  4. Berita satir
  5. Kesalahan pernyataan dari politisi
  6. Laporan yang salah atau menyesatkan

Mengiringi istilah hoaks, masyarakat juga mengenal fake news. Banyak orang mengira hoaks dan fake news itu sama. Febrianto Budiman dari Diskominfo Kalteng menyampaikan, bahwa sebuah berita sebut fake news apabila berita tidak benar disampaikan dari sebuah berita yang bersumber dari sebuah media yang resmi. Sedangkan hoaks merupakan sebuah informasi yang belum jelas kebenarannya dan tidak dapat dibuktikan kebenarannya yang bersumber dari mulut ke mulut dan beredar ditengah masyarakat. Sudah sering kita jumpai berbagai masalah di masyarakat dipicu oleh hoaks dan fake news yang disebarkan baik secara sengaja atau tidak sengaja oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Literasi Digital

Literasi digital adalah jurus manjur supaya hoaks dan fake news tertangkal. Literasi digital didefinisikan sebagai pengetahuan dan kecakapan untuk menggunakan media digital, alat-alat komunikasi, atau jaringan dalam menemukan, mengevaluasi, menggunakan, membuat informasi, dan memanfaatkannya secara sehat, bijak, cerdas, cermat, tepat, dan patuh hukum dalam rangka membina komunikasi dan interaksi dalam kehidupan sehari-hari. Dari definisi literasi digital di atas dapat disimpulkan bahwa literasi digital itu tidak hanya sekedar kemampuan mengoperasikan perangkat digital saja.

Dalam Materi Pendukung Literasi Digital Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, seorang peneliti literasi digital bernama Douglas A.J. Belshaw mengemukakan bahwa terdapat delapan elemen esensial dalam mengembangkan literasi digital, yaitu:

  1. Kultural, yaitu pemahaman ragam konteks pengguna dunia digital;
  2. Kognitif, yaitu daya pikir dalam menilai konten;
  3. Konstruktif, yaitu reka cipta sesuatu yang ahli dan aktual;
  4. Komunikatif, yaitu memahami kinerja jejaring dan komunikasi di dunia digital;
  5. Kepercayaan diri yang bertanggung jawab;
  6. Kreatif, melakukan hal baru dengan cara baru;
  7. Kritis dalam menyikapi konten;
  8. Bertanggung jawab secara sosial

 Tips Menangkal Hoaks dan Fake News dari Media Abal-Abal

Dahulu kita mengenal slogan “mulutmu harimaumu.” Sekarang “jarimu adalah  harimaumu.” Supaya kita terhindar dari jahatnya hoaks dan fake news, lakukan hal berikut ini:

Jangan Mudah Percaya

Saat membaca sebuah berita, yang pertama kita lakukan adalah jangan segera menelan mentah-mentah berita yang kita baca. Telaah dulu apakah berita tersebut masuk akal dan bisa diterima.

Periksa Sumber Berita

Jangan terjebak dengan berita sedang ramai dibicarakan. Periksa apakah sumber berita itu dapat dipercaya. Kita dapat juga memastikan keakuratan berita dengan melihat media online yang memuat dan juga narasumbernya. Jika perlu, baca juga berita pembanding sehingga dapat menimbang mana kira-kira berita yang dapat dipercaya.

Jangan Asal Share

Setelah membaca satu berita, dan sudah memastikan kebenarannya, lebih baik tahan dulu jika ingin membagikannya. Pertimbangkan apakah berita tersebut layak dibagikan dan tidak membawa dampak buruk ke depannya. Tidak terhitung kasus pidana saat ini karena asal membagikan berita. Anda tidak ingin kan mengalami hal yang sama?

Marilah kita berhati-hati dalam membaca, memilih, dan membagikan berita. Mudahnya akses informasi saat ini bagaikan dua mata pisau yang tajam. Jika tidak bijak menggunakannya, akibatnya akan sangat merugikan.

 

Tulisan ini diikutkan dalam 30 Days Writing Challenge Sahabat Hosting

1 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *