Tetap Produktif di Era Disruptif? Bisa!

Era disruptif, revolusi industri 4.0, era digitalisasi adalah istilah-istilah yang sering kita dengar belakangan ini. Sebagai wanita, kita juga harus aware dengan isu-isu yang berkembang seputar perkembangan zaman yang secara otomatis membawa perubahan dalam segala lini kehidupan.

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia dijelaskan makna dari disruptif adalah tercabut dari akarnya. Maka di era disruptif yang kita hadapi sekarang, banyak hal yang tidak sesuai dengan akarnya. Misalnya, kalau zaman dulu belanja harus pergi ke pasar, swalayan, atau supermarket. Sekarang, kita bisa belanja di mana saja dan kapan saja sambil tiduran di rumah. Segala hal setba digital, bahkan dompet pun sekarang didigitalisasikan.

Namun, semua itu janganlah membuat kita menjadi pesimis. Karena sesungguhnya banyak hal yang kita bisa ambil supaya kita bisa menjadi wanita yang produktif di era disruptif  ini. Bagaimana caranya?

  1. Bersedia mempelajari hal-hal yang baru.
    female-865110_640

    Sumber: pixabay.com

    Tidak ada alasan gaptek dan menjadi penonton kesuksesan orang lain. Di era yang semakin maju ini, banyak hal baru yang sebelumnya tidak kita ketahui. Hal ini seharusnya menjadi motivasi bagi kita untuk tidak malas belajar. Toh, dukungan teknologi yang berkembang pesat ini tidak akan menjadi penghambat. Belajar sesuatu tidak perlu banyak biaya dan kesulitan mengatur waktu. Sekarang kita bisa belajar apa saja melalui genggaman tangan kita. Modalnya hanya satu, mau.

  2. Mau bekerja keras.
    rabbit-pulling-carrot-2256824_1280

    sumber: pixabay.com

    Dengan cepatnya tersebarnya berbagai informasi, semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk berusaha. Otomatis, akan ada banyak kompetitor di luar sana. Dengan pengetahuan yang kita miliki dan semangat bekerja keras tanpa putus asa, tentu semua tantangan yang ada tidak lagi menjadi kendala.

  3. Menetapkan target yang ingin dicapai.
    darts-102919_1920

    sumber: pixabay.com

    Hidup ini ibarat sebuah perjalanan. Kita tahu kendaraan apa yang akan kita naiki dan jalur mana yang akan kita lewati jika kita tahu tujuan kita dengan pasti. Menetapkan target berarti kita juga mempersiapkan langkah-langkah atau strategi untuk mencapai target yang telah kita tetapkan. Target membuat kita fokus dan tidak mudah teralihkan. Dengan demikian, produktifitas kita akan mudah direalisasikan.

  4. Memperluas jaringan.
    social-media-3846597_1280

    sumber: pixabay.com

    Jaringan yang dimaksudkan di sini adalah jaringan pertemanan. Dengan memperbanyak teman, kita dapat dengan mudah berbagi informasi. Kita bisa bergabung dalam komunitas-komunitas yang sesuai dengan passion. Semakin luas jaringan yang kita miliki, kesempatan dan peluang sukses semakin terbuka lebar.

  5. Mengorganisir setiap hal dengan rapi.
    female-865110_640

    sumber: pixabay.com

    Hal ini menjadi penting karena bisa kita gunakan sebagai panduan. Hal-hal yang perlu diorganisir tidak hanya sebatas dokumen. Bahkan, ide yang melintas di kepala harus dengan cepat kita tulis supaya kita tidak lupa. Dengan sistem yang bagus, kita bisa dengan mudah mengevaluasi setiap perkembangan usaha kita. Kita akan terhindar dari fase stagnan yang menghambat produktifitas kita. Tidak perlu membuat yang terlalu merepotkan. Kita bisa mengorganisasikan ide, langkah-langkah atau strategi yang harus dilakukan, dan lain sebagainya dengan sebuah buku jurnal atau aplikasi yang bisa dengdn mudah diunduh melalui smartphone yang kita miliki.

  6. Jangan mudah puas.
    happiness-1866081_640

    sumber: pixabay.com

    Jika kita sudah merasa puas dengan pencapaian yang kita miliki, biasanya kita akan berhenti. Padahal tantangan dan kesempatan semakin hari semakin tinggi. Tidak mudah puas membuat kita tak lelah untuk berinovasi. Target satu terpenuhi, maka muncul target-target selanjutnya yang harus kita capai. Tidak ada waktu untuk bersantai dan membuai diri hanya dengan satu sukses yang kita raih. Karena sesungguhnya sukses itu harus selalu dipelihara dan dipupuk dengan semangat yang tinggi.

Tulisan ini diikutkan lomba blog challenge  yang diselenggarakan oleh Indscript Writing “Wanita Menulis Bahagia.”

0 comments
1 like
Prev post: Adakah Hubungan Antara Kecerdasan Anak dengan Kebahagiaan Ibu?Next post: Dengan Edukasi, Mewujudkan Cita-Cita Kartini Menjadi Perempuan yang Berdikari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *