The Boyos, Not Only Friend In need, We Are friend Indeed

Mendengar kata teman, yang pertama kali muncul di benak saya adalah “The Boyos.” Kami, The Boyos, adalah mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Negeri Malang Angkatan 2000. Saat masih kuliah, kami melakukan banyak hal bersama-sama. Kami sering makan bersama, belajar bersama, nongkrong bersama, dan banyak hal lagi yang kami lakukan bersama. Teman baru datang dan pergi, tetapi The Boyos tak akan pernah terganti.

Asal nama The Boyos

Sumber tangkapan layar Mak Didin

Jika ditilik dari namanya, The Boyos memiliki kesan macho alias maskulin. Padahal 85% mahasiswa di kelas kami waktu itu perempuan.  Menurut Mak Didin, The Queen of Boyo, nama The Boyos bermula saat ia dan para lelaki di kelas kami yang jumlahnya hanya sekitar 5 orang sering nongkrong bareng di warung Mbak Yam. Dari gurauan-gurauan diantara mereka, tercetuslah nama boyo alias buaya itu. Kami, para perempuan, juga tidak keberatan disebut para boyo. Toh, buaya adalah hewan yang paling setia, kan.

Banyak hal kami lakukan bersama-sama. Kami berangkat ke kampus bersama, makan bersama, dan juga belajar bersama-sama. Tentu pertemanan kami ini ada naik dan turunnya. Tetapi yang kami tahu, sampai sekarang kami adalah saudara.

Cerita Lucu Bersama Para Boyo

Suatu hari saya dan teman-teman berkumpul di kos Mbak Sari, boyo pecinta kucing. Mbak Sari ini sungguh luar biasa. di mana pun ia bertemu kucing liar, pasti ia bawa pulang. pada hari itu, ia bersedih tiada tara. Seekor anak kucing yang telah ia pelihara selama beberapa hari tiba-tiba mati. Ia menangis meratapi si kucing kecil itu. di ujung kamarnya teronggok kardus bekas tempat tidur kucing dan gelas berisi susu yang tinggal setengah. Katanya ia berbagi susu dengan kucing itu.

Saya dan Elly, boyo paling lincah, berinisiatif menguburkan kucing kecil itu di kebun singkong depan kos Mbak Sari. Waktu itu hari sudah petang. Dalam keremangan cahaya, Saya dan Elly mulai menggali tanah menggunakan kayu. kami sudah sangat berkeringat, tetapi tanah yang kami gali belum cukup dalam untuk mengubur kucing itu. Suara berisik yang kami timbulkan rupanya menarik perhatian warga. beberapa warga menghampiri untuk memeriksa apa yang kami lakukan. Mereka tidak percaya kalau kami sedang berusaha mengubur seekor anak kucing mati. Mereka bahkan mengira kami hendak mengubur bayi. Saya masih ingat bagaimana panik dan takutnya kami waktu itu. Setelah saya tunjukkan bangkai kucing yang ada di dalam kardus, mereka baru percaya. Salah satu dari mereka bahkan meminjamkan kami cangkul untuk menggali. Jika teringat kejadian itu, saya suka tersenyum-senyum sendiri.

The Boyos Kini

Sudah lebih dari 20 tahun sejak pertama kami bertemu. Tetapi Pertemanan kami masih bertahan hingga kini. Para boyo menjalani takdirnya masing-masing. Ada yang menjadi dosen, guru, ibu rumah tangga, dan beragam profesi lainnya. Hal yang saya syukuri adalah silaturahmi kami yang tetap terjaga. Teknologi seperti media sosial memiliki andil besar kami hingga sekarang saling berbagi kabar. Tidak hanya sekedar kabar, kami para boyo sering berbagi informasi. Komunikasi kami bisa dikataakan sangat bermanfaaat. Teman-teman yang memiliki ilmu dibidang keguruan, tidak segan berbagi sehingga kami yang berprofesi sebagai guru bisa saling belajar. kami juga sering berdiskusi tentang masalah-masalah sehari-hari seperti parenting, Shopping, dan banyak lagi. Tidak ada rasa iri karena kami saling menyayangi. Tidak ada rasa rendah diri karena kami saling menginspirasi. Kami tidak hanya berteman saat membutuhkan, kami teman dulu, sekarang, dan insyaallah selamanya.

 

The Boyos
The Boyos

Tulisan ini diikutsertakan dalam 30 Days Writing Challenge Sahabat Hosting

 

 

3 Shares:
2 comments
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *